Untuk Kamu yang Pergi tapi Hatinya Masih di Rumah

Sejak kapan video call dengan keluarga terasa seperti laporan, bukan obrolan? Kalau setiap kali ponselmu berbunyi di waktu yang tidak biasa, ada bagian dari dirimu yang langsung menahan napas, takut itu kabar yang tidak siap kamu dengar dari jauh, buku ini ditulis untukmu.

Anak Rantau, Hati di Rumah adalah buku reflektif tentang rasa bersalah yang menyertai keputusan untuk merantau, demi pendidikan, karier, atau masa depan yang lebih baik. Bukan untuk membuatmu berhenti membangun hidup di kota perantauan, tapi untuk membantumu menemukan cara hadir untuk keluarga, tanpa harus mengorbankan hidup yang sedang kamu bangun.

Buku Ini Cocok untukmu, Kalau...

  • Kamu merasa bersalah setiap kali memutuskan untuk tidak pulang
  • Kamu sulit menikmati hidup di kota perantauan tanpa bayang-bayang rasa bersalah
  • Kamu terus-menerus menghitung "sudah berapa lama tidak pulang"
  • Kamu ingin membangun hubungan yang lebih sehat dengan keluarga, meski tetap memilih hidup berjarak

Apa yang Akan Kamu Temukan di Dalamnya

  • Akar dari rasa bersalah ini, dari budaya yang mengukur bakti dari kehadiran fisik
  • Beban tersembunyi dari hidup di dua tempat sekaligus, secara fisik dan emosional
  • Cara mendefinisikan ulang arti "hadir", yang tidak melulu soal jarak
  • Langkah-langkah konkret membangun kehadiran yang bermakna dari jauh
  • Jeda Refleksi di setiap bab, untuk membantumu berhenti sejenak dan benar-benar memprosesnya

Detail Buku

  • 9 bab + pembuka dan penutup, ditulis dalam Bahasa Indonesia
  • Format PDF, dioptimalkan untuk dibaca langsung di layar HP
  • Termasuk daftar pustaka dari sumber-sumber psikologi keluarga dan migrasi yang kredibel

Hatimu cukup besar untuk dua tempat sekaligus. Buku ini adalah langkah kecil untuk mulai percaya itu.