Waktu kecil, banyak dari kita tidak diajarkan cara marah dengan sehat. Yang diajarkan adalah diam. Sabar. Jangan lebay. Jangan bikin malu.

Jadi kita belajar diam. Dan kita sangat pintar melakukannya.

Tapi kemarahan yang tidak punya tempat, tidak hilang. Ia berubah jadi kelelahan yang tidak jelas asalnya. Jadi tubuh yang tegang terus. Jadi jarak dalam hubungan yang tidak pernah kamu pahami kenapa bisa ada. Jadi ledakan kecil-kecil yang muncul di waktu yang paling tidak tepat, untuk hal-hal yang sebenarnya kecil.

Buku ini ditulis untuk kamu yang sudah sangat lama menjadi orang yang "baik-baik saja" yang mengangguk, yang mengalah, yang menelan, yang diam dan mulai bertanya-tanya kenapa itu terasa sangat melelahkan.

Bukan buku tentang cara meledak atau membalas. Tapi tentang mengenal kembali emosi yang selama ini paling jarang kamu akui: bahwa kamu marah, dan itu wajar, dan ada cara untuk menghadapinya yang tidak menghancurkan dirimu atau orang-orang yang kamu sayangi.

Sembilan bab yang mengalir dari teori ke praktik: mengenali berbagai wajah kemarahan yang tidak terlihat, memahami dari mana kebiasaan diam ini terbentuk, melihat apa yang terjadi ketika marah tidak punya saluran, sampai langkah konkret untuk mulai mengekspresikannya dengan cara yang lebih sehat. Setiap bab diakhiri dengan Jeda Refleksi pertanyaan-pertanyaan kecil yang bisa kamu jawab dalam hati, atau kamu tulis jika perlu.

Ditulis oleh Pendi Pramana. PDF 44 halaman, mobile-friendly. Bukan pengganti konsultasi atau terapi profesional kesehatan mental.